Indonesia di Tengah Perjanjian Pertahanan Commonwealth (2-habis)

40 Tahun Rujuk Malaysia – Indonesia http://www.sinarharapan.co.id/berita/0708/10/sh04.html

Oleh Aju
Pengantar redaksi:  Sabtu, 11 Agustus 2007, genap 40 tahun usia rujuk Federasi Malaysia–Republik Indonesia (Malindo). Namun ternyata, persoalan di daerah perbatasan Malaysia-Indonesia belum juga selesai. Untuk mengulas masalah tersebut, SH menyajikan dua tulisan.

PONTIANAK – Dalam salah satu buku dokumen yang diterbitkan Departemen Luar Negeri disebutkan, salah satu latar belakang pembentukan Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) adalah meningkatkan kerja sama ekonomi dan membendung pengaruh ajaran komunis di Asia Tenggara.
Dalam percaturan politik regional, kehadiran ASEAN kenyataannya untuk meredam agresivitas militer Indonesia yang di awal tahun 1960-an sempat condong ke Uni Soviet (Rusia) dan Republik Rakyat Tiongkok (China). Agresivitas Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah dibuktikan dengan berhasil merebut Irian Jaya dari pendudukan Belanda tahun 1963.
Saat hampir bersamaan, TNI sempat menyerbu Negara Bagian Sarawak karena ketidaksetujuan Presiden Soekarno terhadap Sabah dan Sarawak yang bergabung dengan Federasi Malaysia.
Hampir bersamaan dengan pembentukan ASEAN, melalui jaringan commonwealth (persemakmuran) bersama Inggris, Australia, dan Selandia Baru, Malaysia menandatangani perjanjian militer mengikat dalam Five Power Defence Arrangement (FPDA). Perjanjian pertahanan serupa juga dilakukan Inggris, Australia, dan Selandia Baru dengan Singapura dan Brunei Darussalam.
Implikasinya, jika terjadi ketegangan militer dengan Indonesia, kekuatan intelijen dan logistik Inggris, Australia, dan Selandia Baru akan mendukung Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Jadi dari strategi pertahanan, Indonesia berada di tengah bayang-bayang kekuatan militer FPDA. Indonesia sendirian dalam mengamankan kawasan.

Atas kenyataan ini pula, Malaysia cenderung menunjukkan sikap egoisnya terhadap Indonesia. Klaim sepihak atas Perairan Blok Ambalat, Karang Unarang, Kalimantan Timur, 16 Februari 2005, melalui pemberian konsesi pengelolaan pengeboran minyak lepas pantai kepada perusahaan internasional, Shell, membuktikan Malaysia dalam percaturan politik kawasan tidak mengenal teman abadi. Malaysia memanfaatkan kelemahan pada border system security kita.
Semestinya, Mahkamah Internasional di Denhaag, Belanda, yang telah memenangkan Malaysia terhadap kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan, dijadikan peringatan terakhir.

Alutsista
Atas dasar kenyataan tersebut, anggota Komisi I DPR Suripto sangat mendukung kerja sama militer Indonesia dengan Rusia, China, Korea Selatan, dan India yang sedang berjalan, untuk membendung kekuatan militer sepihak FPDA di kawasan Asia Tenggara.
Setelah sebelumnya sepakat menjalin kerja sama lebih konkret di bidang militer dengan India, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Moskow pada 29 November 2006 menandatangani perjanjian kerjasama militer dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Kerja sama itu di antaranya pengadaan kelengkapan satu skuadron pesawat tempur Sukhoi yang dikenal canggih bermanuver, kapal selam killo class, helikopter serbu M-35, dan pendirian peluncur satelit dan roket di Biak, Papua.
Selain itu, kerja sama melalui sistem kredit lebih Rp 9 triliun tahun 2006–2011. Melalui anggaran militer diproyeksikan Rp 33,878 triliun tahun 2008, sedangkan tahun 2007 Rp 33,64 triliun, tahun 2006 Rp 21 triliun, Indonesia memperbarui alutista darat, laut dan udara, di antaranya membeli beberapa pesawat intai tanpa awak dari Israel.
Sementara pada 13 November 2006 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dan Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer menandatangani perjanjian kerja sama militer.
Langkah Indonesia memperbarui alat utama sistem pertahanan (alutista), membuat Malaysia gerah. Ini bisa dilihat pada 30 Nopember 2006, PM Australia John Howard menemui PM Malaysia Datuk Abdullah Badawi, di Kuala Lumpur. Howard menilai Badawi peduli terhadap kualitas hubungan bilateral. Sedangkan pada era PM Mahathir Mohammad, Malaysia sempat menuding Australia arogan, berupaya menempatkan diri jadi sheriff di Asia yang berpola pikir rasis sehingga setiap ada upaya negara kanguru itu mendekati negara di Asia Tenggara, selalu dihalangi Malaysia sebagai salah satu pendiri ASEAN.
Sikap melunak Kuala Lumpur memiliki sejumlah dimensi, yakni ingin mempertajam kembali komitmen di bidang pertahanan sebagaimana tertuang dalam FPDA beranggotakan Malaysia, Inggris, Australia, Singapura dan Selandia Baru. Malaysia sadar Australia paling berjasa dalam sejarah ketatanegaraan negara jiran itu. Inggris yang didukung Selandia Baru dan Australia sukses membentuk Federasi Malaysia tanggal 16 September 1963, setelah seminggu sebelumnya digelar referendum yang dihadiri pejabat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kekhawatiran Barat
Pembentukan Federasi Malaysia (belakangan Brunei Darussalam dan Singapura memisahkan diri) sebagai bentuk kekhawatiran negara barat, karena Indonesia sejak 1960 di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno cenderung dirasuki paham Blok Timur.
Jika Sabah, Sarawak, Brunei Darussalam, dan Singapura tidak segera digabung di dalam federasi melalui referendum, pengaruh Republik Rakyat Tiongkok di Asia Tenggara sebagai salah satu pintu masuk paham komunis di seluruh daratan Asia, akan semakin kuat.
Hasil referendum diprotes Indonesia dan Filipina. Indonesia menilai pembentukan Federasi Malaysia sebagai upaya Inggris mempertajam pengaruh kolonialisme dan imprealisme di Asia Tenggara. Sedangkan Filipina memprotes karena Sabah bagian dari wilayah Kesultanan Sulu, Mindanau yang kemudian disewa Inggris.
Tapi protes Indonesia dan Filipina tidak membuahkan hasil. Malah Federasi Malaysia (sebelumnya dikenal dengan sebutan Persekutuan Tanah Melayu) tanggal 17 September 1963, hanya satu hari setelah pengumuman pembentukan federasi, memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia dan Filipina.
Hubungan diplomatik normal, setelah konfrontasi bersenjata Indonesia–Malaysia berakhir melalui perjanjian Jakarta Accord, 11 Agustus 1966 yang ditandatangani Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik dan Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Tun Abdurazak.
Dimensi lain Malaysia merangkul Australia, karena Indonesia dinilai tidak gampang diperdaya. Indonesia sudah berani menunjukkan sikap tegas dan keras, hingga mengerahkan kekuatan militer laut, memprotes klaim Malaysia atas kepemilikan perairan Blok Ambalat, Karang Unarang, Kaltim, 16 Februari 2005, setelah sebelumnya sukses di Mahkamah Internasional di Denhaag, Belanda, “merebut” Pulau Sipadan dan Ligitan.
Aspek lain, Malaysia menganggap Indonesia tidak bisa lagi dipandang remeh di bidang alutista. Indonesia–Malaysia memiliki banyak kesamaan dan kepentingan bersama, namun juga mempunyai perbedaan kepentingan yang sangat mendasar sehingga sewaktu-waktu mampu menggugah rasa nasionalisme. Sayangnya, selama ini persamaan kepentingan sangat ditonjolkan, sedangkan perbedaan kepentingan yang menyangkut klaim batas wilayah terus dipendam para pemimpin kita.
Dihadapkan dengan kondisi dimaksud, sangat perlu dilakukan pendekatan pembangunan di perbatasan dengan pendekatan kesejahteraan, tanpa mengabaikan pendekatan keamanan dan pendekatan lingkungan.
Kebijakan pembangunan yang selama ini melihat wilayah perbatasan sebagai halaman belakang, harus diubah menjadi halaman depan negara.
Sikap Malaysia yang kembali berhubungan mesra dengan Australia, diharapkan mampu mengubah sense of security setiap warga negara. Indonesia tidak boleh terlalu polos dalam pergaulan diplomatik dengan Malaysia. n

Iklan

6 Tanggapan

  1. Malaysia adalah negara tetangga. Walaupun tetangga tapi kalo sudah merusak dan merasa memiliki terlalu besar atas yang ada dirumah kita ini ( INDONESIA ), kita harus mempertahankan hak kita. TAPI BOLEH DIGARIS BAWAHI MALAYSIA BERANI KARENA ADA PERSEKUTUAN DENGAN NEGARA LAIN. Gimana tidak tentaranya saja sama ular takut. apalagi dengan pasukan kopasus kita……………yang siap dilepas dihutan dengan hanya berbekal dengan pisau. MERDEKA INDONESIA

  2. malaysia yg ngakuny tetangga serumpun koq sukany cari gara2 aj.beraninya krn dpt dukungan dr ‘FPDA’.Indonesia negara yg berdaulat.memang ada ‘bug’ dborder security tapi jgn macam2 mal

  3. hahaha…INDON BODOH ama TIMUR-TIMUR aja kalah…..ama ACEH jugaTNI nya takut mati….

  4. Negara ada krn ada penduduk & pemerintahnya
    Negara wibawa krn kebesarannya, krn pengaruhnya & krn alat perangnya, Negara disegani krn ketegasannya Indonesia jadilah Negara Kuat krn bnyk Patriotisnya, Kuat Rasa Persatuannya, Kuat krn Alutistanya yang memadai….jgn hanya kuat dlm komentarnya, kuat & pejabatnya kuat2 korupsinya, kasianilah rakyat2 yg jd sengsara krn tdk kebagian jatahnya…..rintihan rakyat jelata

  5. Dasar malaysia negeri banci, ga malu ya dari dulu jadi “PARASIT”, buat ngurus pertahanan saja cuman bisa ngarepin belas kasihan negara2 penjajah, kalian itu belum merdeka, banci. Indonesia merdeka, malaysia cuman boneka.

  6. malay bisa cuma maling!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: