Malaysian “jingle” tune claimed as Maluku folk song

10/04/07 00:10Ambon (ANTARA News) – The adoption of the song “Rasa Sayange” as Malaysia`s cultural “jingle” has given rise to claims in Maluku that the tune is an indigenous Indonesian creation.


Maluku Governor Karel Albert Ralahalu said “Rasa Sayange” was Indonesian because it had been a folk song in Maluku since time immemorial so that Malaysia could not consider it as its own.

“After I was born in 1946, my mother often carried me as a baby while singing this tune. In fact, it has been a Maluku people`s folk song from generation to generation. So Malaysia should not use it as an icon of its tourism by taking advantage of the fact that Indonesia has not patented it,” he said here Wednesday.

Some words in the song such as “lia” (see) and “jao” (far), were taken from the Ambon people`s vernacular so any Malaysian claim to it was baseless, he said.

Therefore, Ralahalu would bring Maluku artists together to find out who actually created “Rasa Sayange” so that it could be patented and not be claimed by other parties such as Malaysia.

“It is time for us protect the property rights of Maluku and Indonesian artists so their creations cannot be pirated by other countries,” the governor said.

Separately, the chairman of Maluku`s Provincial Legislative Council (DPRD), Richard Louhenapessi, said if Malaysia persisted in claiming Rasa Sayange as its cultural property, the legislature would lodge a protest with the International Court of Justice through the Indonesian government and parliament.

“We hope the central government will support the Maluku government`s and community`s initiative so that the song Rasa Sayange is duly acknowledged as a Maluku folk song,” he said.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

Iklan

4 Tanggapan

  1. cepet2 di beri paten buat seluruh lagu daerah indonesia biar malayse gak bisa asal comot lagi

  2. Jangan marah, kalau kita bangsa Indonesia di sebut INDON (babu) oleh bangsa Malaysia. Sebab utama, cari presien dan warga butuh huruf, tidak sayang di Indonesia. Sudah menjabat, presiden, gubernur, DPR, kesempatan mengeruk uang untuk pundi-pundi keluarga atau kelompok. Dan, inilah awal kehancuran Indonesia.

    Marilah bersama, kita galang persatuan, kesatuan, dan cinta bangsa ini. Jangan sampai dengan cerita Majapahit, Sriwijaya, Uni Sovyet, Yogoslavia, yang kini menjadi catatan sejarah.

    Apa perlu, ganyang Malaysia?????

  3. Jangan marah, kalau kita bangsa Indonesia di sebut INDON (babu) oleh bangsa Malaysia. Sebab utama, dari presien dan warga butuh huruf, tidak sayang di Indonesia. Sudah menjabat, presiden, gubernur, DPR, kesempatan mengeruk uang untuk pundi-pundi keluarga atau kelompok. Dan, inilah awal kehancuran Indonesia.

    Marilah bersama, kita galang persatuan, kesatuan, dan cinta bangsa ini. Jangan sampai dengan cerita Majapahit, Sriwijaya, Uni Sovyet, Yogoslavia, yang kini menjadi catatan sejarah.

    Apa perlu, ganyang Malaysia?????

  4. Seperti yang di sebut oleh Maluku Governor Karel Albert Ralahalu yang “Rasa Sayange” was Indonesian because it had been a folk song in Maluku since time immemorial so that Malaysia could not consider it as its own.

    I am sorry ya to say this, kalau Gabenor Maluku boleh sebut demikian, ternyata dia seorang yang tidak cukup pengetahuan (another idiotic leaders) yang tidak tahu sejarah-sejarah lama penduduknya dan juga kebudayaannya. Malangnay dia hanya tahu untuk bergantung hanya kepada cerita orang-orang lama Maluku… yang tidak pasti sejarah lagu itu.

    Tahukah orang Maluku (atau masa itu Polynesia) akan istilah bahasa lagu ini masa ia mula didengar oleh penduduk Maluku dalam kurun ke 14..???
    Pastinya tidak… maka dari mana bahasa asal lagu ini…. Pastinya Kapitan Lopez De Sequera dari Portugal akan marah kalau dia tahu Maluku menuntut lagu ini haknya. Tentu sudah mampus orang Malauku dubedil denagn meriam Portugis kerana rentak asalnya dari Moresko Portugis… dan telah dicampur aduk denagn bahasa tempatan Maluku…
    Maka denagn ditelan zaman, ia manjadi Rasa sayange….

    Hai bapak gabenor… baca sejarah dahuluuuu … baru buat komen umum yang rasmi. Jangan buat kenyataan sebarangan kerana ia akan nampakkan kebodohan Pemimpin Maluku sendiri yang hanya mau populariti politik…
    kalau tak ada kerja duduk diam-diam di pulau tu dan makan ikan banyak-banyak…
    Malaysia pun tidak pernah menuntut ini laguini sebagai nya tapi hanya nyanyi kerana ia popular di Nusantara… apa menjadi kesalahan.

    Lagu-lagu Indonesia juga turut banyak diciplak dari lagu-lagu di Europah. Apaa… tidak malukah atas perbuatan itu. Orang Malaysia pun siapa orangnya…. adalah asal dari Indonesia juga….
    Bagaimana bapak begitulah anaknya….
    Saya malu dengan sikap pemikiran otak yang amat cetek yang ada pada banyak pemimpin Indonesia.

    Memang betullah kata orang-orang tua disana yang orang Indonesia Maluku sanggup buat apa aje untuk mahu hidup dan tak mau fikir panjang untuk masa depan anak-anak yang bila sudah besar lari kenagara jiran membuat banyak masaalah…

    Ternyata Bapak Kepala-Kepala Bapak Ciplak adakah orang Indonesia juga….

    FIKIRKAN LAAHHH…..
    Semoga semua selamat dari ditelan Gempa bumi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: