Jangan Emosional Sikapi Malaysia

Kamis, 11 Okt 2007,
Agung Laksono Minta SBY Undang Badawi
JAKARTA – Serangkaian kekerasan yang sering menimpa WNI di Malaysia memang menyakitkan. Namun, hal itu jangan disikapi secara emosional.

Menurut Ketua DPR Agung Laksono, masyarakat tidak perlu berlebihan menyikapi arogansi Malaysia. Tidak perlu, misalnya, mendengungkan lagi jargon Ganyang Malaysia yang dipopulerkan Soekarno pada 1963. “Dampak negatifnya hanya akan merugikan kedua negara,” katanya dalam paripurna penutupan masa sidang I tahun sidang 2007-2008 di Gedung DPR kemarin (10/10).

“Ganyang itu kan perang. Apakah perlu sampai sejauh itu?” ujarnya.

Dia lebih mendukung adanya pertemuan tingkat tinggi antara dua kepala negara untuk menyelesaikan persoalan demi persoalan yang sering berupa kekerasan itu. Misalnya, antara Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi.

Agung menyarankan agar SBY dan Badawi duduk bersama. Jangan hanya telepon-teleponan. “Undang saja PM Malaysia itu ke Indonesia,” tegasnya.

Pemerintah Indonesia, kata dia, harus mendesak pemerintah Malaysia untuk menjamin hak WNI di negeri jiran tersebut. “Setelah pertemuan dua kepala negara, jangan sampai kejadian itu terulang,” ujarnya.

Intensitas pelanggaran dan kekerasan terhadap WNI di Malaysia memang kian tinggi. Sebelumnya, peristiwa tersebut sering menimpa TKI. Bahkan, Ketua Dewan Wasit Karate Indonesia Donald Pieter Kolopita sempat menjadi korban pemukulan anggota Kepolisian Diraja Malaysia.

Kini, aksi itu terus meluas. Motornya adalah Relawan Rakyat Malaysia (Rela) yang tugas pokoknya adalah merazia warga asing. Tak terhitung kejahatan yang sudah dilakukan Rela. Mulai pemerkosaan TKI, perampokan tujuh mahasiswa Indonesia, sampai pendobrakan pintu rumah ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Universitas Kebangsaan Malaysia.

Yang terbaru adalah pelanggaran hak istri diplomat Indonesia. Korbannya, istri Atase Pendidikan KBRI (Konsulat Besar Republik Indonesia) Imran Hanafi, Muslianah Nurdin. Dia sempat dirazia dan ditahan di pom bensin kawasan Chow Kit selama dua jam. Padahal, dia membawa kartu pengenal diplomat asing yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Malaysia.

Namun, kata Agung, tugas pemerintah Indonesia sebenarnya tidak hanya memastikan hak serta keamanan WNI di Malaysia. Melainkan, memperbaiki pula kondisi ekonomi dalam negeri dan memperbaharui alat utama sistem persenjataan (alutsista). “Biar Malaysia kembali segan kepada kita,” katanya. (pri)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: